← Semua Berita

23 October 2026 Berita

Peran Ibu dan Ketahanan Keluarga Jadi Sorotan Kajian Ustadz Muhsin Bahri di PP Kunuuzul Imam Kauman

Oleh Wardaa • 👁 83 dibaca

Peran Ibu dan Ketahanan Keluarga Jadi Sorotan Kajian Ustadz Muhsin Bahri di PP Kunuuzul Imam Kauman
BONDOWOSO Setiap peran dalam keluarga menyimpan nilai ibadah yang besar jika dijalani dengan landasan ilmu. Hal tersebut menjadi pesan mendalam yang disampaikan oleh "Ustadz Muhsin Bahri" dalam kajian keagamaan yang digelar di Pondok Pesantren (PP) Kunuuzul Imam Kauman pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Melalui penyampaian yang menyentuh hati, beliau mengingatkan umat islam khususnya para ibu dan istri tentang hakikat pengabdian, pentingnya mendidik anak berbasis ilmu, hingga bahaya fitnah dunia di penghujung usia.

Renungan Anak dan Orang Tua: Tanda Akhir Zaman

Mengawali tausiyahnya di hadapan para santriwati PP Kunuuzul Imam Kauman, Ustadz Muhsin Bahri menyentuh fenomena moral yang kian memprihatinkan, mengingatkan kita pada tanda-tanda akhir zaman ketika "seorang ibu melahirkan majikannya."

Beliau mengisahkan sebuah kenyataan pahit tentang seorang anak yang dirawat dengan penuh kasih sayang sejak kecil oleh orang tuanya. Namun, setelah dewasa dan mampu secara fisik, ia justru tega menitipkan orang tuanya ke panti jompo hanya karena gratis dan enggan merasa direpotkan.

"Bahkan ketika pihak panti menegaskan syarat bahwa keluarga tidak akan dikabari jika orang tuanya meninggal dunia, anak tersebut dengan mudahnya menjawab 'ya'. Na'udzubillah," tutur Ustadz Muhsin mengingatkan jemaah agar jangan sampai menggantungkan harapan kepada manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT.

Peran Istri dan Ibu sebagai "Madrasatul Ula"

Ustadz Muhsin juga mengulas tentang ketahanan rumah tangga dan peran penting seorang istri. Tugas utama seorang istri adalah taat kepada suami serta menjaga bersuci. Sementara itu, penyediaan nafkah "halalan thoyyiban" merupakan kewajiban suami. Namun, beliau mengingatkan bahwa arah rezeki suami sering kali dipengaruhi oleh gaya hidup istri.

"Kadang suami yang awalnya mencari yang halal bisa terjerumus mencari yang haram karena tuntutan istri yang kurang bersyukur dan boros," jelasnya.

Oleh karena itu, seorang ibu mutlak harus berilmu karena ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Beliau meneladani kisah Perang Badar, di mana Rasulullah SAW memerintahkan tawanan perang untuk mengajari anak-anak Madinah membaca dan menulis demi pentingnya pendidikan.

Mengasuh Anak Berbasis Sunnah dan Kenali Karakter Perkembangannya

Sebagai sosok yang menghabiskan waktu 24 jam bersama anak, seorang ibu diimbau untuk mempraktikkan hal-hal sederhana namun bermakna yang diajarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Rasulullah SAW sendiri memberi teladan kasih sayang dengan menggendong cucunya, Sayyidina Hasan dan Husain, sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Beliau juga mengingatkan pentingnya membiasakan adab harian, seperti menutup mulut saat menguap.

Selain itu, Ustadz Muhsin menekankan pentingnya orang tua memahami fase perkembangan anak:

1. Fase Bermain: Ketika anak selalu ingin bermain, orang tua harus memiliki ilmu tentang permainan edukatif yang sarat hikmah.
2. Mental Berpisah (Pesantren): Mendidik anak tidak sekadar memiliki banyak keturunan, tetapi juga membekali mereka ilmu. Jika melepas anak ke pondok pesantren terasa menyakitkan, hal itu adalah bagian dari ikhtiar menyelamatkan masa depan agama mereka.
3. Masa Pubertas:Saat anak mulai bersolek dan memasuki masa puber, orang tua harus merangkul mereka sebagai teman. "Ajak anak bercerita agar tidak mencari pelarian ke luar. Ajari mereka batasan pergaulan—bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis bukan mahram, sesama jenis, maupun keluarga mahram," tegas beliau.

Bahkan saat seorang wanita sedang berhalangan/haid sehingga tidak bisa salat, beliau mengingatkan agar amalan harian seperti membaca zikir dan wirid tetap dijaga, serta merawat kesehatan fisik.

Peringatan Bahaya "Hubbud Dunya" di Usia Senja

Di akhir kajiannya, Ustadz Muhsin menyampaikan nasihat menyentuh tentang pentingnya menjaga hati dari penyakit cinta dunia (hubbud dunya). Kebiasaan atau kegemaran maksiat yang dipelihara sejak muda bisa terbawa hingga tua dan berujung pada akhir kehidupan yang buruk (su'ul khatimah).

Beliau menceritakan kisah nyata tentang seorang pria sepuh yang gemar mengadu ayam. Meski sudah diingatkan untuk bertobat di sisa usianya, pria tersebut enggan berhenti karena sudah terlanjur menjadi kegemaran. Tragisnya, keesokan harinya ia meninggal dunia saat sedang mengadu ayam.

Mengutip pesan dari KH.sufyan (Pengasuh PP. Sumber Bunga), Ustadz Muhsin menyebutkan bahwa hiburan terbaik adalah hiburan yang memenuhi tiga karakter:

1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT
2. Tidak membutuhkan banyak biaya
3. Sederhana dan membawa kedamaian/kebahagiaan secara gratis
BAGIKAN: WA FB X

Berita Terkait